My Eyes, Your Eyes [Prolog]

FF baruuuu~

Ini aku bikinnya jaman sebelum PKL, tahun 2011 pertengahan kalau gasalah wkwk.-.

Tapi prolognya baru bikin barusan kilat._. aku kasih prolognya dulu yaaaw~

Part 1 rencananya mau di protect… tapi~ gatau deng gimana ntar hehe makanya komen yaaawwww~ *aegyo*

 

PROLOG

Mei, 1999.

“Ayo tangkap ayo!”

“Kembaliin dong! Itu kan punya aku.”

“Kalau aku gak mau ngembaliin, gimana?”

“Iiihh! Itukan punya aku! Lagian kamu kan cowok, gaboleh main boneka.”

“Suka-suka aku dong, blee!”

Pemandangan yang tak asing lagi. Dua orang anak, bertetangga, berteman, saling menyayangi, tapi selalu bertengkar

Entah mengapa, si anak laki-laki selalu saja menggoda si anak perempuan. Dengan mengambil sendalnya, menyembunyikan permennya, mencuri ikat rambutnya, dan masih banyak lagi keusilan-keusilan lainnya yang membuat si anak perempuan ngambek, dan akhirnya si anak laki-laki berhenti menjahili si anak perempuan. Kelakuan khas bocah. Dan saat ini, mereka sedang bermain di halaman depan rumah si anak laki-laki yang tidak terlalu besar, dan seperti biasa juga, dia selalu menyembunyikan apapun barang yang dibawa si anak perempuan.

“Makanya, kalau punya badan itu yang tinggi dong, susah kan ambilnya?” si anak laki-laki masih mengangkat tinggi-tinggi boneka yang ia rebut. Ia senang sekali melihat wajah si anak perempuan yang cemberut dan kesal karena ulahnya.

Dia berjalan mundur untuk menghindari si anak perempuan yang berusaha meraih bonekanya. Sampai akhirnya dia terjatuh karena tersandung batu, dan bonekanya terlempar jauh ke arah jalan. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan yang ada, si anak perempuan segera berlari ke jalan raya dan berniat mengambil bonekanya.

Tapi, saat baru saja beberapa langkah keluar dari halaman, BRAK! Anak perempuan itu sudah terlempar jauh —tertabrak truk besar pengangkut kayu. Dan truk yang menabraknya pergi begitu saja.

Si anak laki-laki yang mendengar, langsung berdiri dan berlari. Memastikan apa yang terjadi. Dilihatnya si anak perempuan yang tergolek lemah dalam radius 15 meter darinya. Perlahan ia berjalan mendekat dengan jantung yang berdegup sangat cepat —bahkan hampir melompat keluar.

Dalam jarak 5 meter lagi, ia bisa mencium bau amis darah dan dilihatnya darah kental keluar dari pelipis anak perempuan itu.

Tiba-tiba kakinya terasa mati rasa dan lembek seperti jelly. Ia jatuh terduduk dengan air mata yang mulai mengalir deras dari matanya.

Dan ia sudah tak dapat berpikir lagi saat teriakan ibunya memecahkan keheningan yang tercipta

*

“Pelipisnya terbentur sangat keras. Mengakibatkan kerusakan pada saraf matanya. Dan perkiraan saya, matanya sudah tidak bisa berfungsi lagi.”

“Tidak, mana mungkin ini bisa terjadi?”

“Saya juga berharap, kalau perkiraan saya salah. Tapi, kemungkinan untuk itu sangat kecil sekali, Nyonya.”

Ini salahku. Ini salahku. INI SALAHKU!!!!

Ini tak akan terjadi, jika aku tidak jatuh. Jika aku tidak melempar bonekanya. Jika aku tak merebut bonekanya. Mengapa aku sungguh bodoh?

Lalu sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Bodoh! Bodoh! Bodoh!aku telah membuatnya tak bisa melihat!

Aku menghancurkan segalanya. Menghancurkan cita-citanya, menghancurkan masa depannya, dan menghancurkan hidupnya. Itukah yang disebut dengan berteman? itukah caramu menunjukkan bahwa kau menyayanginya? Dasar bodoh!

*

Aku tak ingin pergi. Aku ingin tetap disini. Aku ingin menebus semua kesalahanku. Aku ingin menemaninya dan menjadi matanya selama aku bisa. Tapi, aku tak bisa. Aku harus segera pergi. Mengapa keadaan seakan tak memihak padaku? Mengapa seakan membuatku semakin merasa bersalah.

Anak laki-laki itu menatap rumah disebelah rumahnya. Terlalu banyak kenangan yang terjadi di dalam rumah itu. Dan sebentar lagi, semuanya hanya benar-benar tinggal kenangan.

Ia melirik mobil pengangkut barang yang ada di depan rumahnya. Matanya berkaca-kaca. Ia belum siap untuk berpisah. Ia juga belum siap untuk bertemu. Walaupun keluarganya sama sekali tak menyalahkannya, dan tetap bersikap manis kepadanya, tapi ia masih belum berani bertemu langsung dengannya.

Sampai sekarang pun, saat ia harus pergi meninggalkan rumahnya itu, ia tidak berniat bertemu dengannya. Walaupun rindu yang membuncah sudah meletup-letup dalam dirinya.

Tatapannya beralih ke sebuah surat yang ia pegang. Disitu, semuanya tercurah. Perasaannya, ketakutannya, kesedihannya, kata-kata maafnya, dan ungkapan betapa ia begitu menyayanginya .

“…belum? …cepat… terlambat!” samar-samar ia bisa mendengar suara ibunya. Mau tak mau, rela tidak rela, ia memang harus segera meninggalkan rumahnya.

Dibukanya pagar rumah itu, dan di letakkannya surat yang ia pegang di depan pintu rumah. Air matanya sudah mengalir sejak ia memasuki pekarangannya. Terlalu banyak kisah manis yang tersimpan didalamnya.

Sampai jumpa. Aku janji… aku akan membuatmu dapat melihat kembali.

*

6 thoughts on “My Eyes, Your Eyes [Prolog]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s