Fanfiction – Key [Part 2 – End]

Author Pov

Minra hendak keluar kelas saat ada seseorang memanggilnya.

“eh –Minho. Waeyo?”

“aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan sekarang. Kau mau?”

Dia tersenyum bak malaikat. Sungguh, dia adalah ciptaan Tuhan paling sempurna yang pernah Minra lihat.

Minra mengangguk dan tersenyum sebagai jawabannya.

Mereka berdua pergi menyusuri kota seoul sampai tak lama kemudian Minho menghentikan mobilnya. Namsan Tower berdiri dengan tegak dihadapan mereka, membuat Minra tak pernah berhenti mengagumi bangunan ini. Padahal sudah beberapa kali dia pergi kesini.

“ini, minumlah!” Minho menyodorkan segelas kopi kehadapan Minra.

“gomawo, Minho oppa.”

Jam sudah menunjukan pukul 5 sore. Minra dan Minho memutuskan untuk masuk. Cuaca diluar sangatlah dingin.

Saat berada di dalam gondola, tiba-tiba saja Minho menyodorkan sebuah kotak lumayan besar. Membuat Minra menautkan alis bingung.

“apa ini, oppa?”

“hadiah untukmu,” hadiah? Mengapa dia memberikanku hadiah? Batinnya.

“aku tak sengaja melihat buku note-mu yang ketinggalan itu untuk mengetahui alamat rumahmu. Disitu tertulis kalau hari ini kau berulang tahun. Jadi –ya ini hadiah untukmu. Saengil chukkae, Minra-ya.”

Minra sungguh kaget mendengar jawabannya. Minho –ingat ulang tahunnya? Sedangkan dia saja lupa kalau hari ini adalah genap dia berusia 20 tahun.

Matanya mulai terasa panas. Minra sungguh terharu oleh kelakuan namja tampan di depannya ini.

“gamsahabnida. Jeongmal gamsahabnida, oppa.”

“sudah tidak perlu menangis, sekarang bukalah. Ku harap kau menyukainya.”

Minra segera membuka hadiahnya. Apapun isinya, aku pasti akan suka oppa. Batin Minra berteriak.

Dilihatnya sebuah boneka beruang berukuran sedang dengan warna bulu seputih salju. Dikepala beruang itu terdapat sebuah pita kecil berwarna pink. Di perut –buncit– beruangnya terdapat tulisan “Happy Birthday, Kang Minra”

“gomawo, oppa. Ini –sungguh aku menyukainya.”

“baguslah jika kau suka. Aku khusus memesannya untukmu.”

*

*

Minra Pov

Minho oppa mengantarkanku sampai depan rumah. Tepat pukul 8 malam.

Hari ini aku sungguh sangat senang. Rasanya tak ingin kebersamaanku dengan Minho oppa selesai begitu saja. Aku tahu aku egois.

“tak usah, oppa,” aku menahannya ketika dia berniat membukakan pintu untukku. “diluar hujan, biar aku sendiri saja.”

“kalau begitu, kau masuklah! Takut umma-mu khawatir.”

“kau tidak mau mampir dulu, oppa?”

“tidak usah. Lain kali saja.”

“kalau begitu, aku masuk ya, oppa. Terimakasih untuk hari ini. Kau hati-hati dijalan. Annyeong!” aku tersenyum padanya sebelum aku membuka pintu mobilnya dan keluar. Melambaikan tanganku sampai mobilnya tak terlihat lagi dari pandanganku.

Aku membaringkan tubuhku di kasur setelah aku berendam si bathub. Senyum tak henti-hentinya bertengger di wajahku.

Ku rogoh tas-ku untuk mencari ponsel. Berniat mengucapkan terima kasih –lagi kepada Minho oppa atas hari ini.

Ponsel-ku mati. Lowbat.

Setelah ku charge dan ku hidupkan, ternyata ada 5 pesan dan 7 missed call. Semuanya dari Key. Ada apa sih memangnya sampai dia gencar sekali menghubungiku? Biasanya dia cukup mengirim 1 buah pesan-wajibnya.

Kau dimana

Apakah masih ada kelas?

Minra-ya, apa kau baik-baik saja?

Apa terjadi sesuatu?

Aku masih menunggumu. Cepatlah datang!

Aigo! Aku lupa kalau aku ada janji dengannya.

Ku lirik jam dinding di kamarku. Pukul 8.45 malam. Berarti lewat 3 jam 45 menit dari janjinya.

Aku segera berlari keluar setelah menyambar payung. Menghiraukan teriakan umma yang memanggilku. Tak peduli kalau saat ini hujan masih saja mengguyur seoul (walaupun tak terlalu lebat). Tak peduli dia masih menungguku atau tidak.

Entahlah mengapa aku nekat seperti ini hanya untuk seorang Key. Jangan tanya padaku.

*

*

Key Pov

Sudah 30 menit dari janji yang dibuat, tapi Minra belum datang. Dia tidak membalas pesanku saat aku menanyakannya dia dimana.

Ku coba telpon ponselnya, tapi tidak diangkat.

Ku kirimi dia pesan lagi, namun tetap nihil. Ia tak membalas pesanku.

Mungkin dia masih ada kelas. Ku coba untuk menghibur diriku sendiri dan meyakinkanku untuk menunggunya karena dia pasti akan datang.

1 jam…

2 jam…

3 jam…

Ponselnya tidak aktif sejak 2 jam yang lalu.

Sudah pukul 8 malam. Hujan mengguyur kota seoul, dan dia tetap belum datang. Apa dia lupa? Setahuku dia bukan orang yang pelupa.

Drrt…drrt…

1 new message.

Segera ku raih ponselku. Berharap itu adalah pesan dari Minra. Namun itu hanya harapan semata saat ku mulai membuka pesannya.

Key, apakah kau sudah siap? Ini sudah lewat 1 jam dari yang dijanjikan. Disini hujan, asal kau tahu.

Dari Jonghyun hyung. Sepupuku yang ku minta bantuan untuk acara kejutan yang –rencananya– akan ku berikan malam ini kepada Minra.

Kau pulang saja, hyung! Kau bisa sakit kalau terus menunggu. Semuanya gagal. Akan ku ceritakan saat ku sudah pulang.

Sent.

Aku tahu. Seharusnya pesan tersebut juga berlaku untukku. Tapi, hatiku tak mengijinkan untuk aku beranjak dari sini. Aku yakin dia akan datang.

Lama ku menunggu sementara memandang langit yang gelap gulita. Tiba-tiba kurasakan hujan tak mengguyur lagi tubuhku.

“pabo!”

Jantungku berdetak lebih cepat saat ku melihatnya. Minra. Memayungi diriku –dan juga dirinya yang sudah sama-sama basah kuyup. Entah bagaimana caranya dia bisa begitu padahal jelas-jelas dia membawa payung. Well, mungkin dia berlari.

Aku berdiri dari dudukku. Memandang wajahnya dengan jarak sedekat ini –saat dia sedang sadar– adalah hal yang langka. Aku tersenyum melihat wajahnya yang menyiratkan –ehm kekhawatiran, mungkin?

“pabo! Pabo! Pabo! Mengapa kau hujan-hujanan hanya untuk menungguku?” dia memukul-mukul tanganku. Aku hanya tersenyum. Senang melihatnya mengkhawatirkanku.

“kau..khawatir padaku?”

Dia berhenti memukulku dan mengalihkan pandangannya.

“aku hanya tak ingin orang lain susah karenaku.”

“aku tahu kau khawatir padaku.”

“tidak! Ah sudahlah. Ayo pulang!”

Saat ia hendak berbalik, ku tahan pergelangan tangannya. Dia menatapku sebal.

“tutup matamu! Dan berbalik!”

Dia menautkan alisnya bingung.

“ayo cepat!”

“andwae! Apa yang akan kau lakukan?”

“aku tidak akan menyakitimu, tenanglah! Ayo cepat tutup matamu! Dan berbaliklah!” aku menatapnya meyakinkan bahwa aku tak akan melakukan apapun yang akan mengecewakannya.

Ku rogoh saku celanaku saat dia mulai menutup mata kemudian berbalik.

Dia tersentak saat aku mulai memakaikan hadiah dariku –sebuah kalung dengan bandul cincin.

Dia membuka matanya sebelum aku memerintahkannya. Berbalik dan menatap tak percaya kepadaku sambil menyentuh bandul liontinnya.

Tanpa basa-basi aku langsung memeluknya. Dia menjatuhkan payungnya sebagai respon keterkejutannya.

Walaupun dia tak membalas pelukanku, tapi dia tak memberontak. Ini kesempatan untuk aku mengatakannya.

“saengil chukkae, nae Minra. Ku berikan kalung dengan bandul cincin itu bukan tanpa maksud apa-apa. Mungkin saat ini kau hanya bisa memakainya sebagai bandul kalung, tapi suatu saat, aku berjanji –pada diriku– akan memakaikan cincin itu dijari manis tanganmu. Jaga kesehatanmu, okay? Aku tak ingin kau sakit.”

“bagaimana aku tidak akan sakit jika kau membuatku menjatuhkan payungnya?”

*

*

Minra Pov

Entah apa yang ada di pikiranku sehingga aku membawanya kerumahku, mengajaknya untuk menginap. Ya, yang ku maksud itu Key.

Taxi. Mungkin itu yang bisa ku jadikan alasan. Ini sudah malam, dan hujan semakin lebat mengguyur kota seoul. Sekitar 20 menit aku dan Key menunggu taxi didekat taman tapi tetap saja tak muncul. Bus? Jangan tanya –ini sudah malam.

Saat ini aku sedang mengerjakan tugasku, saat pintu kamarku diketuk. Aku tahu pasti itu siapa.

“masuk!”

“kau sedang apa?” tanya Key.

“mengerjakan tugas,” jawabku dingin.

Dia kemudian tak bertanya lagi, dan menurut feeling ku –karena aku membelakanginya– pasti dia sekarang sedang berkeliling kamar. Well, terdengar dari suara langkahnya.

“hmm…bagus. Dari siapa?”

Aku meliriknya yang sedang menggenggam boneka beruang hadiah dari Minho oppa.

“oh..itu dari Minho oppa. Tadi dia mengajakku jalan-jalan dan–”

Segera ku bungkam mulutku. Pabo! Dasar pabo! Bagaimana bisa kau keceplosan mengatakan padanya? Mengatakan alasan yang menyebabkan kau melupakan janji dengannya. Pabo!

Dengan takut-takut kulirik wajahnya. Apakah ia marah?

“oh..” dia hanya mengangguk-ngangguk dan menyimpan lagi boneka itu ditempatnya. “Good night, Minra.”

Dia berjalan ke arah pintu dan punggungnya menghilang seiring dengan pintu ditutup. Sempat ku lihat ia tersenyum tipis.

Aish, eottokhae? Apa Key marah?

Eh –mengapa kau begitu takut jika dia marah?

*

*

“kau tidak berniat untuk mencoba mencintainya? Atau mungkin menyukainya terlebih dahulu?”

Tidak. Sama sekali tidak.

“ya, coba saja kau bersikap baik terlebih dulu kepadanya. Kalau kau terus saja menolaknya, kupikir lama-kelamaan dia akan mundur.”

Mundur? Seorang Key mundur?

“kau tidak takut kalau dia mundur? Melepaskanmu untuk tidak menjadi miliknya?”

Key akan melepasku?

“jangan sampai kau menyesal saat kau sudah kehilangannya.”

Taemin menepuk pundakku kemudian berdiri dari kursinya yang diikuti oleh Yunmi. Mereka sudah berbaikan ternyata. Dan sekarang malah kompak membuatku masuk kedalam pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tak pernah kupikirkan.

“aku dan Yunmi pulang duluan, kau hati-hati.”

“kau jangan pulang terlalu malam, ne? Annyeong, Minra-ya!”

Aku hanya menatap punggung kedua teman dekatku sambil memikirkan kata-kata mereka barusan.

Key akan mundur? Melepaskanku? Aku menyesal? Apakah aku akan menyesal jika itu benar-benar terjadi?

Tidak. Tidak mungkin Key akan mundur. Setelah enam bulan mengejar cintaku, mana mungkin dia akan mundur!

Tapi, bukankah justru karena semakin lama dia bertahan, semakin besar pula kemungkinan dia akan mundur?

Lamunanku buyar karena bunyi handphone-ku yang menandakan ada pesan yang masuk.

Dari Key.

Minra-ya, hari ini aku tidak bisa pulang bersamamu. Tiba-tiba saja Kang songsaenim memintaku untuk membantunya. Kau lebih baik pulang duluan sebelum matahari terbenam.

Hanya itu? Tidak bisa pulang bersama? Bahkan tidak menyisipkan emoticon kiss?

Eh? Mengapa kau kecewa Minra? Ucap sebuah suara yang lain dalam pikirannya.

Tidak –aku tidak kecewa! Aku hanya heran saja. Ya –heran saja.

Baiklah. Aku akan pulang sendiri. Lagipula, aku tidak menunggumu. Ada atau tidak adanya Key, aku akan selalu (merasa) pulang sendirian.

Tapi…..mengapa rasanya –aneh?

Tidak. Tidak.

Ini. Tidak. Aneh. Kang Minra!

*

*

Sudah kurang lebih dua minggu aku tidak bertemu dengan Key. Dia selalu saja sibuk. Bahkan, sudah lima hari ini dia tidak mengirimku satupun pesan singkat. Dan anehnya aku merasa khawatir, mungkin? Atau…kesepian?

Entahlah, aku tidak tahu.

Apa benar dia menyerah? Dia melepaskanku?

Ya, bisa saja itu terjadi. Key hanya seorang manusia yang pasti memiliki batas kesabaran.

Tapi, mengapa seperti ini caranya?

Dan…parahnya lagi aku merasa menyesal?

Sungguh tak dapat ku percaya. Apakah aku sudah mulai menyukainya?

Argh! Ada apa dengan otakmu Kang Minra? Mengapa akhir-akhir ini kau sering sekali memikirkannya?

“melamunkan Key sunbae, huh?”

“ti –tidak!”

“tak usah berpura-pura. Di keningmu tertulis jelas bahwa kau sedang memikirkannya,” Yunmi menunjuk keningku.

Aku hanya melengos mendengar jawabannya.

“apa kau tertarik untuk bercerita padaku?” tanyanya. Memainkan alisnya naik turun –menggodaku.

Saat aku akan membuka mulut untuk bercerita, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi membuatku mengurungkan niatku. Menunggu dia selesai dengan urusannya.

“ne –ne. Bawel sekali kau! Tenang saja… Ye, ara ara. Bye,” dia menutup telponnya kemudian mentapku serius.

“wae?”

“apa –apa kau tahu… tentang –apa kau sudah mendengar beritanya?” tanya Yunmi serius –tergagap.

“berita? Berita apa?”

“tentang Key sunbae,”

Seketika itu juga kurasakan tubuhku menegang. Ada apa dengannya? Aku hanya menggeleng sebagai jawaban.

“ku dengar dia –dia akan pergi ke Aussie besok.”

Sesaat ku rasakan aku berhenti bernafas. Dadaku terasa sesak sampai aku lupa caranya bernafas. Aku tersadar saat Yunmi menyentuh tanganku.

“aku tidak sedang ingin bercanda, Yunmi”

“aku –tidak sedang bercanda. Jika kau tak percaya, tanyakan saja pada –pada Taemin,”

“berapa lama?”

“ku dengar –eum sekitar dua sampai lima tahunan atau bahkan tak akan kembali.”

“eum –baguslah… Aku –tidak akan ada lagi yang menggangguku,” aku berusaha susah payah agar suaraku tak terdengar bergetar.

*

*

Terhitung sudah sekitar sepuluh kali –dengan hari ini– aku menjadi guru Minho oppa. Dia sudah semakin mahir dari hari ke hari. Tapi, bukan itu yang menjadi masalahku. Saat ini sungguh aku tak bisa fokus memikirkan pembicaraanku kemarin dengan Yunmi. Apa benar Key akan pergi? Hanya itu pertanyaan yang terus muncul didalam benakku. Aku tak berani menanyakannya lewat sms atau menelponnya. Kalian tahu, gengsiku selalu menang.

“…bagaimana? Hey, Minra-ya? Apa kau mendengarku?” Minho oppa mengguncangkan tubuhku membuatku tersadar dari lamunanku.

“ah –ne, oppa?”

“sepertinya kau kurang konsentrasi, apa kau tidak enak badan?”

Aku segera menggeleng mencoba meyakinkannya dan tersenyum.

“kalau begitu, pasti kau ada masalah. Mau berbagi denganku? Itu –jika kau mau,” dia tersenyum manis padaku. Membuatku yakin untuk menceritakannya.

*

*

Terus terngiang didalam benakku perkataan Minho oppa dan pesan singkat dari Yunmi tadi.

“apa yang kau rasakan?”

“aku…merindukannya.”

“mengapa?”

“aku –aku tak tahu.”

“itu berarti kau menyukainya,”

“huh? Tak ada alasan bagiku untuk menyukainya, oppa. Lagipula –aku yakin selama ini aku…menyukaimu, oppa.”

“jeongmalyo? Apa yang membuatmu suka padaku?”

“kau itu –kau tampan, tinggi, pintar, atlet basket, dan –yah…”

“itu disebut dengan kagum, Kang Minra. Kau sepenuhnya tidak menyukaiku –oke aku tahu, kau menyukaiku tapi tidak lebih dari sebatas kagum. Asal kau tahu, cinta sesungguhnya tak membutuhkan alasan mengapa seseorang bisa jatuh cinta terhadap lawan jenisnya.”

“jadi –eotthe, oppa?”

“kejarlah dia sebelum terlambat –sebelum kau menyesal.”

Dan disinilah aku saat ini, berlari sekencang mungkin menuju bandara. Sesekali menatap layar ponsel yang kugenggam. Disana dengan jelas terpampang pesan dari Yunmi yang membuatku ingin sekali sampai di bandara.

Yang kutahu pesawat-nya take off 30 menit lagi. Jinjja? Kau akan mengejarnya?

Tak kubalas pertanyaannya. Itu tak terlalu penting. Yang terpenting sekarang adalah mencegahnya –Key– untuk tidak pergi.

Ku lirik jam di ponselku. Aigo! 10 menit lagi! Sedangkan jarak bandara masih sangat jauh. Aku sama sekali tak berniat naik bis, karena jadwal keberangkatannya masih 25 menit lagi. Aku juga tak ada waktu hanya untuk menunggu taxi yang sedari tadi tak aku lihat sedikitpun ujung ban-nya.

“apa pesawat dengan tujuan aussie sudah berangkat?” tanyaku sesaat setelah sampai di bandara.

“baru saja berangkat. Sekitar 5 menit yang lalu.”

*

*

Author Pov

Minra berjalan dengan lemas setelah mengucapkan terimakasih kepada tugas bandara.

Air mata sudah menggenang dipelupuk matanya, bersiap terjun kapan saja sesuai keinginannya.

“Mengapa aku begitu bodoh? Mengapa aku baru menyadarinya kalau aku sungguh tak ingin kehilangannya,” dia terus memaki dirinya. Terbiasa dengan Key setiap hari membuatnya sulit untuk kehilangannya.

Dan kenyataan yang paling tidak ingin Minra akui adalah; aku –Kang Minra sudah berhasil membuka hati untuk namja gila –Kim Kibum.

Minra berjalan gontai keluar dari bandara. Langit seperti mendukung perasaannya dengan menumpahkan isinya, mengalir mengikuti aliran kecil di pipi putihnya.

Sungguh ia ingin sekali berteriak. Tapi, sepertinya seluruh tenaganya hilang tersapu dengan air hujan yang mengguyur tubuhnya.

“ouch –maaf, aku tidak sengaja,” ucap Minra setelah dia menabrak sambil meringis mengusap keningnya yang terasa sakit.

Saat hendak beranjak, tiba-tiba tangannya ditahan oleh orang yang baru saja ditabraknya. Saat dia mendongak untuk melihat si-penahan-tangannya, saat itu juga ia merasa lupa caranya bernafas.

“Key..” gumamnya sambil menatap Key dengan tajam.

“mengapa menatapku seperti itu? Apa aku bertambah tampan setelah beberapa hari tak bertemu?”

Minra menghiraukan candaannya. Dia lebih penasaran mengapa Key masih ada disini. Seharusnya kan dia sudah berangkat ke Aussie.

“kau…tidak jadi pergi?” sungguh, Minra sangat berharap kalau jawaban yang terlontar dari mulut Key adalah “ya.”

“pergi? Kemana?”

“Aussie –Yunmi bilang kau akan pergi ke Aussie.”

“Yunmi? Pantas saja dia menyuruhku kesini,” gumam Key.

“apa? Kau bicara apa?”

“ah –tidak. Aku tidak berbicara apa-apa.”

“ehm –jadi? Kau tidak pergi?” setelah lama terdiam, Minra bertanya lagi.

“jadi, aku akan pergi ke Aussie.”

“la –lalu mengapa kau masih disini?” suara Minra mulai bergetar.

“aku berangkat besok, bukan hari ini.”

Jawaban Key membuat air mata yang baru saja berhenti kembali mengalir. Itu terlihat jelas, karena saat ini hujan tak lagi mengguyur tubuh –basah Minra (sedari tadi mereka mengobrol dibawah payung).

Minra menatap Key dengan mata merahnya.

“setelah dengan seenaknya kau masuk kedalam kehidupanku, sekarang kau dengan seenaknya juga pergi begitu saja.”

“ma –maksudmu?” Key menautkan alis bingung.

“Pikir saja dengan otakmu yang sebesar biji kacang itu!” Minra menjawab dengan menggebu-gebu. “Mengapa kau tidak memberitahukanku sebelumnya? Mengapa kau justru menghilang di hari-hari terakhir kau berada di Seoul? Mengapa kau sama sekali tak pernah menghubungiku saat kau akan pergi? Mengapa kau berniat meninggalkanku? Apa kau menyerah, huh? Kau pernah bilang padaku –saat di kamar itu. Kau –kau akan mencintaiku sampai akhir hidupmu. Lalu –lalu apa buktinya? Sekarang kau malah akan meninggalkanku, meninggalkanku yang… aku –”

“tunggu!” Key menahan tangan Minra yang sedari tadi memukulinya. “apa maksudmu? Aku tak akan meninggalkanmu. Aku pergi ke Aussie hanya satu minggu, hanya untuk mengunjungi kakek-ku disana. Aku akan kembali lagi ke Seoul.”

Minra menatap Key tak percaya.

“lalu –Yunmi bilang, kau –kau pergi dua atau lima tahun, atau bahkan tak akan kembali,” Minra bergumam pada dirinya sendiri namun terdengar oleh Key. Rasa malu mulai menjalar. Yunmi baru saja mengerjainya dan dia tidak sadar. Oh, bodoh sekali kau, Kang Minra, rutuknya.

Dengan ragu-ragu dia menatap Key yang sekarang tengah tersenyum –atau menyeringai?

“jelaskan padaku, mengapa kau begitu marah jika aku pergi?”

Minra gelagapan, bingung akan alasan apa yang harus ia berikan supaya namja didepannya itu tidak mengetahui isi hatinya yang sebenarnya.

“aku –aku…”

“apa kau –kau sudah mulai menyukaiku?” seringaian di wajah Key makin besar.

“tidak!” sanggah Minra cepat.

“tidak? Benarkah kau belum menyukaiku?”

Minra menggeleng dan menunduk. Menahan rasa malunya. Key mengangkat dagu Minra dengan telunjuknya. Menatap bola mata Minra, mencoba memasuki mata bening itu.

“katakan padaku, kalau kau belum menyukaiku.” Ucap Key tegas.

Minra terpaku sesaat dengan mata kucing milik Key sebelum menjawab.

“oke oke,” dia menarik nafas panjang sebelum melanjutkan. “ku pikir aku sudah gila, karena sekarang –dengan senang hati, aku katakan padamu bahwa (hhh..) aku sudah mulai menyukaimu.”

Tanpa aba-aba key langsung memeluk Minra dengan erat. Membuatnya sulit untuk bernafas.

“gomawo. Jeongmal gomawo. Saranghae, Minra-ya.”

“na do saranghae.”

Yang bisa Minra lakukan hanya membalas pelukan Key. Saling berusaha berbagi kehangatan dari tubuh masing-masing yang menggigil kedinginan. Sampai akhirnya, suara klakson mobil membuat mereka melepaskan pelukannya masing-masing.

“maaf, agassi. Dilarang berpelukan dipinggir jalan apalagi saat hujan turun dengan lebat.”

“YAAA! YUNMIKO! KAU MENYEBALKAN!

-FIN-

2 thoughts on “Fanfiction – Key [Part 2 – End]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s