6

My Eyes, Your Eyes [Prolog]

FF baruuuu~

Ini aku bikinnya jaman sebelum PKL, tahun 2011 pertengahan kalau gasalah wkwk.-.

Tapi prolognya baru bikin barusan kilat._. aku kasih prolognya dulu yaaaw~

Part 1 rencananya mau di protect… tapi~ gatau deng gimana ntar hehe makanya komen yaaawwww~ *aegyo*

 

PROLOG

Mei, 1999.

“Ayo tangkap ayo!”

“Kembaliin dong! Itu kan punya aku.”

“Kalau aku gak mau ngembaliin, gimana?”

“Iiihh! Itukan punya aku! Lagian kamu kan cowok, gaboleh main boneka.”

“Suka-suka aku dong, blee!”

Pemandangan yang tak asing lagi. Dua orang anak, bertetangga, berteman, saling menyayangi, tapi selalu bertengkar

Entah mengapa, si anak laki-laki selalu saja menggoda si anak perempuan. Dengan mengambil sendalnya, menyembunyikan permennya, mencuri ikat rambutnya, dan masih banyak lagi keusilan-keusilan lainnya yang membuat si anak perempuan ngambek, dan akhirnya si anak laki-laki berhenti menjahili si anak perempuan. Kelakuan khas bocah. Dan saat ini, mereka sedang bermain di halaman depan rumah si anak laki-laki yang tidak terlalu besar, dan seperti biasa juga, dia selalu menyembunyikan apapun barang yang dibawa si anak perempuan.

“Makanya, kalau punya badan itu yang tinggi dong, susah kan ambilnya?” si anak laki-laki masih mengangkat tinggi-tinggi boneka yang ia rebut. Ia senang sekali melihat wajah si anak perempuan yang cemberut dan kesal karena ulahnya.

Dia berjalan mundur untuk menghindari si anak perempuan yang berusaha meraih bonekanya. Sampai akhirnya dia terjatuh karena tersandung batu, dan bonekanya terlempar jauh ke arah jalan. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan yang ada, si anak perempuan segera berlari ke jalan raya dan berniat mengambil bonekanya.

Tapi, saat baru saja beberapa langkah keluar dari halaman, BRAK! Anak perempuan itu sudah terlempar jauh —tertabrak truk besar pengangkut kayu. Dan truk yang menabraknya pergi begitu saja.

Si anak laki-laki yang mendengar, langsung berdiri dan berlari. Memastikan apa yang terjadi. Dilihatnya si anak perempuan yang tergolek lemah dalam radius 15 meter darinya. Perlahan ia berjalan mendekat dengan jantung yang berdegup sangat cepat —bahkan hampir melompat keluar.

Dalam jarak 5 meter lagi, ia bisa mencium bau amis darah dan dilihatnya darah kental keluar dari pelipis anak perempuan itu.

Tiba-tiba kakinya terasa mati rasa dan lembek seperti jelly. Ia jatuh terduduk dengan air mata yang mulai mengalir deras dari matanya.

Dan ia sudah tak dapat berpikir lagi saat teriakan ibunya memecahkan keheningan yang tercipta

*

“Pelipisnya terbentur sangat keras. Mengakibatkan kerusakan pada saraf matanya. Dan perkiraan saya, matanya sudah tidak bisa berfungsi lagi.”

“Tidak, mana mungkin ini bisa terjadi?”

“Saya juga berharap, kalau perkiraan saya salah. Tapi, kemungkinan untuk itu sangat kecil sekali, Nyonya.”

Ini salahku. Ini salahku. INI SALAHKU!!!!

Ini tak akan terjadi, jika aku tidak jatuh. Jika aku tidak melempar bonekanya. Jika aku tak merebut bonekanya. Mengapa aku sungguh bodoh?

Lalu sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Bodoh! Bodoh! Bodoh!aku telah membuatnya tak bisa melihat!

Aku menghancurkan segalanya. Menghancurkan cita-citanya, menghancurkan masa depannya, dan menghancurkan hidupnya. Itukah yang disebut dengan berteman? itukah caramu menunjukkan bahwa kau menyayanginya? Dasar bodoh!

*

Aku tak ingin pergi. Aku ingin tetap disini. Aku ingin menebus semua kesalahanku. Aku ingin menemaninya dan menjadi matanya selama aku bisa. Tapi, aku tak bisa. Aku harus segera pergi. Mengapa keadaan seakan tak memihak padaku? Mengapa seakan membuatku semakin merasa bersalah.

Anak laki-laki itu menatap rumah disebelah rumahnya. Terlalu banyak kenangan yang terjadi di dalam rumah itu. Dan sebentar lagi, semuanya hanya benar-benar tinggal kenangan.

Ia melirik mobil pengangkut barang yang ada di depan rumahnya. Matanya berkaca-kaca. Ia belum siap untuk berpisah. Ia juga belum siap untuk bertemu. Walaupun keluarganya sama sekali tak menyalahkannya, dan tetap bersikap manis kepadanya, tapi ia masih belum berani bertemu langsung dengannya.

Sampai sekarang pun, saat ia harus pergi meninggalkan rumahnya itu, ia tidak berniat bertemu dengannya. Walaupun rindu yang membuncah sudah meletup-letup dalam dirinya.

Tatapannya beralih ke sebuah surat yang ia pegang. Disitu, semuanya tercurah. Perasaannya, ketakutannya, kesedihannya, kata-kata maafnya, dan ungkapan betapa ia begitu menyayanginya .

“…belum? …cepat… terlambat!” samar-samar ia bisa mendengar suara ibunya. Mau tak mau, rela tidak rela, ia memang harus segera meninggalkan rumahnya.

Dibukanya pagar rumah itu, dan di letakkannya surat yang ia pegang di depan pintu rumah. Air matanya sudah mengalir sejak ia memasuki pekarangannya. Terlalu banyak kisah manis yang tersimpan didalamnya.

Sampai jumpa. Aku janji… aku akan membuatmu dapat melihat kembali.

*

0

Is FelTson real? :’D

Aku berharap banget jawabannya itu, YA!

Kenapa? Oh plis deeeehhh! Bukti-buktinya tuh udah banyak bangeeetttt~

Greget sumpah sama mereka-_-

Oke, sekarang aku mau bahas tentang bukti dari tweet-nya Tom Felton.

Waktu itu, entah kapan aku lupa. Pokonya 2011, Tom pernah ngetweet nama Emma. Emma. Just Emma.

Gak percaya? Nih aku kasih screenshootnya.

Itu screenshootnya aku dapet dari internet, tapi beneran aku liat tweet-nya. Dan reaksi aku bener-bener the best. Teriak-teriak gak jelas, loncat-loncat di kasur, pokonya persis cacing kepanasan aja lah saking senengnya.

Tapiiiiii~

Ada tapi-nya nih.

Tom deleted it after 2 minutes.

What the…

Ngapain coba di hapus kalau emang gaada maksud tertentu? Aihhh mereka tuh emang bener-bener asdfghjkl–”

Yasudah, lupakan yang pertama. Sekarang beralih ke yang ke dua dan yang paling terbaru.

Kemarin, waktu Emma ulang tahun—tanggal 15 April, banyak banget FeltSon shipper yang mention ke dia supaya ngucapin hbd ke Emma, karena sampe siang menjelang sore pun dia belum ngetweet tentang ulang tahun Emma sama sekali. Kirain dia emang bener-bener bakalan diam aja.

Tau-tau dia ngetweet gini: “Because it’s your birthday! Have a nice day🙂 x”

Bukti? Adaaaaa~

Kalau yg itu aku ga liat dia ngetweet:(

Tapi kalian bisa klik disini untuk tahu yang sebenarnya._.

Dan seperti yang sebelum-sebelumnya, dia menghapus tweet-nya juga setelah gak berapa lama.

Heyyyyyyyyy~

Kenapa mesti di hapus kalau emang cuman temen??????? Kenapa harus di hapus kalau emang gak ada apa-apa di antara kalian??????

Sumpah ya ihhhhhhh itu semuaaa bikin aku pengen salto deh liat kelakuan si Tom–”

Grrrr~

Sebenernya masih banyak lagi sih tweet-tweet Tom yang berhubungan sama Emma, tapi kalau dijelasin pasti gaakan abis 50 page saking banyaknya *lebay.

Jadi cuman segitu aja yaaaa huahaha *bilang aja males u,u

Bagi yang penasaran, apa-apa aja yang menjadi bukti kalau mereka itu memang ada “apa-apa” bisa klik disini.

Kalau begitu, sampai jumpa di post-an selanjutnyaaaaa^^/

 

cr: DramioneTeam @ twitter

11

Novel-novel Milik Orizuka^^;

Akhir-akhir ini saya lagi seneng banget baca Novel. Dari berpuluh-puluh novel yang saya baca *lebayyyyy!* salah satu yang buat saya terlena(?) adalah novel-novel karya Orizuka.

Saya udah baca 5 dari 14 —kalau gak salah— karya Orizuka eonni.

Eonni yang satu ini bener-bener bikin saya ngefans sampai kayang(?) sama dia. Dari mulai bahasanya yang mudah dimengerti, plot-nya yang sangat menarik dan gak pasaran, konflik-nya yang bikin pengen bunuh orang lain(?) saking gregetnya, adegan romantisnya yang bisa bikin sirik —apalagi buat yang jomblo HUAHAHA, pokonya semuaaaanya buat saya bener-bener tergila-gila.

Pertama yang saya baca itu cerita cinta remaja, judulnya Miss-J.

Sinopsis:

Hancur sudah. Kehidupan SMA-ku hancur sudah. Aku, Azalea Mariska, siswa kelas sebelas dua, TAMAT. The end. Fin. Apalah itu yang artinya berakhir.

Yap, yap, ini semua gara-gara si Barbie The Barbarian. Kenapa sih dia, apa dia mengidap kelainan semacam tidak bisa membiarkan orang lain bahagia atau bagaimana? Oke, begini. Barbie ini adalah ketua OSIS sekolahku yang sama sekali menyebalkan, palsu, walaupun kenyataannya (yang mana menyakitkan) juga seorang cewek idola para cowok sekolahku. Dia bertambah menyebalkan saat berani-beraninya mempermalukan aku di depan seluruh sekolah dengan mengatakan aku adalah si Miss-J! Yang alias Cewek Jerawat! Di depan Dimas, cowok yang selama ini aku impikan! Bisa separah apa lagi kehidupan SMAku, coba katakan!!

Sudah cukup selama hidupku aku selalu menyesali menjadi diriku, lalu kenapa cewek brengsek itu harus repot-repot membuatnya jadi lebih buruk?? Aku harus membalasnya,  kau tahu, dengan cara apapun juga. Walaupun aku berjerawat dan apapun itu, aku kan tetap cewek kuat!

Sementara aku tengah berjuang melawan Barbie dan semua klonnya, aku harus menentukan hidupku. Aku harus berubah agar Dimas menyukaiku. Aku melakukan hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya, dan akhirnya aku malah bertengkar dengan ketiga teman baikku, di saat kami sedang bersama-sama melawan aksi Barbie!

Dan tiba-tiba saja, muncul si cowok datar ini, yang mengatakan dengan entengnya kalau aku terlalu dangkal. SMA-ku semakin dipenuhi orang-orang aneh!! Bagaimana aku harus berjuang menjadi cewek yang disukai Dimas sekaligus memusnahkan si menyebalkan Barbie kalau begitu?? Oh, dan ya ampun, seakan semua masalah ini belum cukup, pesta ulang tahun sekolah dan pemilihan ketua OSIS ada di depan mataku. Dan yang sangat mengerikan, ternyata aku memiliki andil yang sangat besar di dalamnya…

 

Ya, saya tahu saya terlalu kudet karena baru baca ini sekarang, tapi lebih baik terlambat kan daripada gak sama sekali?

Awalnya saya gatau kalau ini salah satu novelnya Orizuka eonni, soalnya waktu di novel ini Orizuka eonni masih pake nama aslinya Okke Rizka.

Ceritanya menarik banget tentang seorang cewek bernama Lea yang punya masalah sama yang namanya “Jerawat”. Sampai bawa dia ketemu sama cowok misterius bernama Raya.

Ceritanya sukses bikin saya senyum-senyum sendiri gara-gara kelakuan Raya.

Ngomong-ngomong soal Raya, menurut saya, dia itu cowok yang kereeeen~ banget.

Saya terpesona sama sosok Raya *.*

Dan pasti kalian pun bakal terpesona sama dia *sotau!

Selain itu ada juga tokoh nyebelinnya yang emang bener-bener nyebelin kaya si Wormtail. Namanya Barbie, dia ketua OSIS di SMA-nya Lea. Tiap dia muncul, rasanya pengen makan dia hidup-hidup deh saking sengak kelakuannya-_-

Pokonya keren deh!

Makanya harus baca!

Nah, yang ke dua adalah Infinitely Yours.

Sinopsis:                  

Orang bilang, pertemuan pertama selalu kebetulan. Tapi, bagaimana caramu menjelaskan pertemuan-pertemuan kita selanjutnya? Apakah Tuhan campur tangan di dalamnya?

Kita bukanlah dua garis yang tak sengaja bertabrakan. Sekeras apa pun usaha kita berdua, saling menjauhkan diri—dan menjauhkan hati—pada akhirnya akan bertemu kembali.

Kau tak percaya takdir, aku pun tidak. Karenanya, hanya ada satu cara untuk membuktikannya….

Kau, aku, dan perjalanan ini.

 

Novel yang membawa saya tahu kalau Miss-J adalah buatan Orizuka eonni —setelah baca profil penulisnya.

Novel yang banyak orang-orang omongin karena bagus, membuat saya makin penasaran dan tanpa pikir dua kali langsung saya ambil buat baca.

Novel ini bersetting di Korea dan Indonesia —hanya sedikit, di Bandara Soeta— yang membuat saya makin excited baca novel ini.

Pengalaman membaca Miss-J yang benar-benar bikin saya langsung ngefans, membuat saya lebih semangat buat cari novel-novel lainnya karya Orizuka eonni.

Infinitely Yours bercerita tentang pertemuan tak sengaja antara Rayan dan Jingga yang ga sengaja tabrakan —tepatnya sih Rayan yang nabrak— di bandara pas mau pergi tour ke Korea, sampe ngerusakin PSP-nya Jingga.

Dari situ, mereka jadi sering bersama karena kebetulan, kah?

Karakter Rayan yang dingin kaya es cingcau eskrim(?) dan karakter Jingga yang kayak anak SD itu disatukan dan menjadi harmonisasi(?) yang bener-bener menarik._.

Sampai akhirnya membawa Jingga pada pilihan, antara Rayan —orang yang baru beberapa hari dikenalnya, atau Yunjae —seorang tourguide yang menjadi alasan Jingga ikut tour itu.

Lanjut! Yang ke-3 yang aku baca adalah Fate.

Sinopsis:

Jang Min Ho dan Jang Min Hwan.

Dua putra Keluarga Jang yang terpisah selama bertahun-tahun, sekarang harus bertemu kembali untuk mendengar wasiat ayah mereka yang telah meninggal dunia.

Min Ho, terlahir sebagai anak dari istri yang sah, hidup serba berkecukupan di Indonesia. Sementara itu, Min Hwan terlahir sebagai anak dari seorang pelacur, hidup susah di Korea.

Demi mendapat kekayaan Keluarga Jang di Indonesia, dua putra keluarga Jang harus memenuhi segala permintaan ayah mereka di dalam surat wasiat, termasuk tinggal bersama di rumah Keluarga Jang. Rasa dendam, sakit hati dan masa lalu yang pedih membuat kedua kakak-beradik ini lebih mirip seperti orang asing.

Kehadiran Dena, anak gadis kepala pelayan yang juga adalah teman masa kecil mereka, berhasil membuat mereka kembali bersatu. Namun, di saat mereka akhirnya merasa sudah mampu melewati masa itu, nasib berkata lain.

Nasib.
Ketetapan Tuhan.
Sesuatu yang tidak dapat diubah dengan tangan manusia.
Benarkah demikian?

Bagaimana Min Ho dan Min Hwan menghadapi nasib mereka? Sanggupkah mereka mengubahnya?

 

Cerita besetting sama dengan novel sebelumnya Korea dan Indonesia, namun cerita ini lebih banyak bersetting di Indonesia. Hanya beberapa bab saja —di bab-bab akhir yang ceritanya di Korea Selatan. Namun bahasa Korea yang digunakan di novel ini —kayaknya— lebih banyak daripada Infinitely Yours, sampe-sampe Orizuka eonni buat kamus mini di belakangnya. Lumayan buat nambah-nambah kosakata huahaha._.v

Selain itu, nama karakternya membuat saya lebih bersemangat lagi buat baca karena ciri-ciri yang disebutkan bener-bener sudah terbayang di otak tanpa harus berpikir keras^^;

Konfliknya bener-bener gak ketebak dan datang secara tiba-tiba #eaa.

Saat dikira udah tamat —cuman tinggal kisah cinta mereka aja— ternyata datang lagi konflik yang membuat saya makin penasaran dan gak sabar pengen nyelesain bacanya.

Cerita komedinya — walaupun gak terlalu banyak— bener-bener sukses bikin ketawa geli sampai ngakak.

Nah, yang keempat adalah The Truth About Forever.

Sinopsis:

Seberapa berharga sih satu detik itu? Tik. Sebentar saja dia langsung berlalu. Tik. Satu detik pergi lagi. Tak ada harganya.

Tapi tunggu sampai kau sadar waktumu hampir habis. Tik. Kau ingat selama ini jarang beramal. Tik. Kau teringat mimpi-mimpi yang tak sempat kau wujudkan. Tik. Kau sadar kau tak cukup menyayangi kekuarga dan teman-temanmu.

Tik. Tik. Tik. Kau panik, takut menyia-nyakan lebih banyak waktu lagi.

Yogas merasa demikian ketika divonis nggak akan berumur panjang. Tapi bukannya memanfaatkan waktu yang tersisa sebaik-baiknya, dia malah diam-diam pergi ke Yogyakarta. Kedatangannya ke sana tak lain untuk balas dendam kepada orang yang dianggapnya bertanggung jawab atas apa yang terjadi padanya. Bahkan kalau perlu, mati bersama.

Saat itulah cinta datang. Memberi pengharapan, membuatnya merasakan setitik kebahagiaan di dalam kelam hidupnya. Dan sekarang, keputusan itu ada di tangan Yogas. Karena benci dan cinta, tak akan pernah akur.

Jadi, Yogas… pilih yang mana?

Sementara kamu berpikir…. Tik.

Bercerita tentang masalah remaja yang banyak terjadi di Indonesia. Cerita kehidupan dan romantis yang bener-bener menyentuh.

Dimulai dari Yogas yang pergi ke Yogya untuk mencari seseorang yang membuatnya merasa kehilangan masa depannya, yang pada akhirnya membawa dia bertemu dengan sosok Kana.

Kana, gadis biasa— yang bisa dibilang cerewet— mampu membuat Yogas sadar bahwa tak ada gunanya terlarut dalam masa lalu yang membuatnya menyimpan dendam mendalam dan menyia-nyiakan waktu di akhir hidupnya.

Ceritanya sedih dan menyentuh banget. Seharusnya, saya nangis pas baca ini.

SEHARUSNYA!

Tapi, saya sama sekali gak menitikan air mata karena sedih.

Bukan karena saya gak punya perasaan, tapi karena mereka *nunjuk temen* yang gak punya perasaan.

Curhat dulu yaa~ jadi waktu hari rabu sebelum Sholat Dzuhur, saya namatin dulu baca itu, soalnya nanggung tinggal 5 lembar lagi.

Disaat-saat yang seharusnya saya menangis karena sedih, saya malah *shit for that* merona! Kenapa?

Karena temen-temen saya, malah godain saya gara-gara kejadian sebelumnya yang menyangkut saya dengan seseorang. Mau gak mau, air mata yang sudah tergenang di pelupuk mata saya, masuk lagi dan digantikan dengan wajah panas menjalari seluruh muka saya.

Gagal sudah rencana saya untuk sedih-sedihan-_- padahal ceritanya bener-bener menyentuh banget. Temen saya aja baca itu nangis. Dan saya iri sama dia yang bisa nangis-_-

Dan yang terakhir, baru kemarin aku tamatin bacanya adalah 17 Years of Love Song.

Sinopsis:

Nana, saat itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk selalu berada di sampingmu. Menemani sepimu. Menghapus air matamu. Menjadi kekuatanmu.

Begitulah Leo, penyuka baseball yang pendiam, berkata dalam hatinya.

Pertemuannya dengan Nana, seorang gadis berkursi roda di sebuah padang ilalang indah di belakang sekolahnya, telah membuat dirinya berubah. Dari anak kota yang meremehkan kampung yang ia tinggali sekarang, Leo justru menemukan segalanya di sana. Persahabatan, tanggung jawab, serta cinta.

Namun, saat-saat indah itu hanya sekejap. Musibah datang berturut-turut memisahkan mereka.

Lima tahun leo menyusuri jejak Nana tanpa lelah. Saat bertemu kembali, Leo sadar semuanya telah berubah. Apalagi, Leo sekarang telah memiliki Raras.

Berhasilkan Leo dan Nana kembali merajut kembali kenangan-kenangan indah seperti dulu? Atau harus ada seseorang yang mengalah?

Ceritanya bener-bener bagus banget!

Leo tuh bener-bener cowok baik banget~ bikin saya sangsi kalau ada cowok kaya gitu disekitar saya._.

Banyak pelajaran hidup yang saya dapet dari baca novel itu.

Dan itu ceritanya bener-bener full romance, yang membuat saya mau gak mau senyum-senyum sendiri dan merasa iri melihat cara Leo memperlakukan Nana.

Selain itu juga cerita ini benar-benar membuat saya terharu akan ketegaran Nana dan kekuatan cinta Leo :’)

Nahhhhh! Baru segitu yang saya baca. Semoga lain kali ada waktu buat bisa baca semuaaaaa karya Orizuka eonni yang bener-bener berseni indah itu.

Buat kalian-kalian, saya saranin untuk baca yaa soalnya bener-bener keren deh. Dan bisa dijadiin motivasi juga buat yang suka nulis^^;

Kalau begitu, sampai jumpa lain waktuuuuuu! ^^/

0

New Look :D

Hello hello hello~

yak setelah berkali-kali gonta-ganti theme, header, background dan segala antek-anteknya, akhirnya sampai juga di tampilan yang ini -ngena lah dihati huahaha-_-

nah eotte? eotte? Ya walaupun jelek dan tak ada yang istimewa tapi ya lumayanlah lebih bagus dari pada yang kemaren-kemaren hehe._.

kayaknya bakalan bertahan lama deh sama tampilan yang ini, insyaAllah o:)

oh iya, itu headernya semua gambar, clipart dan chibi-nya bukan punya aku yaa, aku nemu di google huahaha jadi kalau ada yang merasa memilikinya, aku pinjam yaa *kedip-kedip.

Oke deh gitu aja hehe maaf ya gajelas._. sebenarnya tujuan dibikin ini juga cuman mau ngasih tau point yang diatas aja, takutnya terjadi kesalah pahaman._.v

So, thanks for attention! Bye ^^

4

I’m Back :D

Hello hello hello hello ^^

Hehehehehe *autis-_-

Akhirnya bisa online di PC juga hehe maklum yaa gapunya pulsa modem #plak.

Saya datang membawa kabar –baik, eum? Entahlah, tapi menurut saya ini baik –untuk saya tentunya hehe^^v

Cuman mau ngasih tau kalau lanjutan BYAIAD udah aku kirim ke SF3SI yeeeee *tebar duit.

Sesuai janji saya kemarin, saya ngirim lanjutannya setelah sidang –walaupun sidangnya gak jadi, ngeselin banget kan-_-

Yasudahlah gak apa-apa yang penting insyaAllah setelah ini saya gak akan “molor” lagi ngirim ff ke SF3SI.

Eh tapi btw, pada seneng gak sih aku ngirim lanjutannya? *ENGGAA!

Tapi terserah sih mau seneng mau engga juga yang penting saya seneng huahahahaha-_—

Udah deh ya daripada banyak bacot, capek saya-nya juga hoho ini dibawah ada review part-3 nya^^

 

Preview “Because, You and I are Different – Part 3”

“CEPAT APA???? AKU TAK TAHU APA YANG HARUS KU LAKUKAN! KAU BELUM MEMBERITAHUKU!”

“panas! Cepat –kemari! Yak!”

.

.

“duduklah, Minho! Kau tidak ingin sekolah kita hancur kan gara-gara teriakan Key?”

“aku hanya khawatir, hyung.”

“tidak usah khawatir begitu, Taemin akan baik-baik saja. Dasar 2min tidak bisa dipisahkan. Ckck,”

“Taemin?”

“Tentu saja Taemin. Kau mengkhawatirkannya kan?”

.

.

“ayolah ahjussi, bukakan gerbangnya!”

“tidak, tidak, tidak. Aku curiga kau adalah pelaku penculikan yang sekarang ini sedang marak, apa setelahnya kau mencicipinya juga?”

“yak! Dasar kau ahjussi mesum! Cepat bukakan gerbangnya.”

.

.

“sama hal-nya seperti manusia biasa –walaupun bukan Tuhan yang menciptakannya­–, dia juga butuh makan dan minum untuk energi-nya.”

“apa yang dia makan? Apakah sama seperti kita?”

“… Dan kupikir, kentang cocok untuknya. Jadi, kau hanya perlu  memberikannya kentang –ku anjurkan itu digoreng, dan coklat panas untuk minumannya.”

.

.

“waah, daebak!”

“mwo? Apanya yang hebat? Ini–”

“Taemin, Oppa, ini apa? Bentuknya lucu… bulat bulat hihihi,”

.

.

Bagaimana bisa ada wanita secantik dia, batinnya. Mata yang bulat dengan bulu mata lentik dan panjang, alis yang tidak terlalu tebal namun rapih itu membingkai mata bulatnya, hidung nya mungil namun lancip, bibir yang tipis melengkung indah jika tersenyum, rambut coklat ikal yang panjang, semuanya terasa pas ditubuhnya yang mungil itu, apa lagi yang kurang?

Hatinya telah berkata.

*

 

Naaaahhhh itu preview-nya hehehe. Mohon sabar yaaa sampai SF3SI ngepost hehe._.

Dan maaf atas keterlambatannya😦

Janji gaakan aku ulang lagi deh beneran:’)

Annyeong^^

3

Mianhae :((( [About “Because, You and I are Different”]

-LUMOS-

Annyeong^^

Sesuai dengan judulnya, di post-an kali ini saya ingin minta maaf sama semua reader “Because, You and I are Different” yang terlihat maupun tak terlihat *dipikir hantu.

Saya membuat ini setelah saya tahu kalau BYAIAD part 2 sudah di publish dan membaca komen-komennya.

Entahlah ini bakal ada yang baca atau engga, cuman yaa berharap sih ada yang baca. Gaada juga gak apa-apa itung-itung curhat._.

Well, saya tau dengan adanya post-an ini saya terlihat seperti yang –yah author hebat yang ceritanya paling ditunggu-tunggu. Ya, saya tau dan nyadar kok *sigh. Tapi, saya cuman gak pengen kehilangan reader aja. Saya yakin gak ada author yang pengen kehilangan reader dengan alasan apapun itu, termasuk dengan ‘Hiatus’. Apalagi saya yang hanya seorang author baru dan masih sangat amat terlalu amatir. Saya masih butuh dukungan kalian, kritikan kalian, dan gak lupa pujian dari kalian *kedip-kedip *kelilipan.

Nah, jadi sekarang apa masalahnya? Apakah Taemin tidak bisa jadi peran utamanya lagi? Apakah Jonghyun sudah merasa capek dihina terus? Apakah Key sudah muak karena harus ngamen di lampu merah? *abaikan *itu hanya imajinasi terliar temen saya.

Masalahnya adalah……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………. *biar dramatis jadi banyak titik-titiknya.

Sampai sekarang pun saya belum ngirim lanjutan dari cerita itu ke blog SF3SI *lembar bom *siapkan meriam *lempar granat *lempar Ojong.

Mengapa? MENGAPAAAAAA???????? PADAHAL INI SUDAH HAMPIR 3 BULAN SEJAK PART 2 DIKIRIM!!!!

Jadi, begini saudara-saudara sebangsa dan setanah air.

Ehem…

Alasan yang pertama adalah; saat kemarin-kemarin dan sampai saat ini saya lagi sibuk. Sibuk kenapa? Karena, dari bulan November sampai Januari akhir kemarin itu saya melaksanakan prakerin (tau kan apa itu?). Jadi, waktu, tenaga dan otak saya (di akhir-akhir masa prakerin) untuk ngetik lanjutannya itu selalu terkuras habis karena kegiatan itu. Loh? Kok itu bisa kirim Part 1 & Part 2 pas bulan Desember? Katanya sibuk. Itu kan saya ngetiknya awal-awal prakerin jadi kerjanya masih rada-rada santai, dan kenapa saya berani ngirim ff itu padahal ceritanya belum tamat (saya baru nulis sampai part 3 dari rencana 5 part)? Karena saya pikir prakerin gaakan secapek itu. Tapi ternyata? Dugaan saya salah. Itu semua bikin saya capek gak karuan, bukan hanya badan tapi juga batin *oke ini rahasia:p.

Buktinya? Saya jarang banget komen di ff-ff yang ada di SF3SI, egois banget kan? Sedangkan saya pengen banget ff saya ada yang komen-,-

Bukannya males untuk komen, tapi saya gak pernah selalu baca semua ff-nya. Jangankan untuk komen, untuk baca saja saya cuman baca ff yang emang udah saya tandain aja, kayak “Miracle Romance”-nya diya onni, itu cerita keren banget-bangetan lah u,u. Kalaupun ada waktu luang saya cuman baca yang dari library, ff yang udah lama.

Yang lainnya? Gak pernah kebaca.

Kan prakerinnya udah selesai dari lama? Kenapa belum ngirim juga? Jadi begini, kalau udah selesai prakerin itu kan biasanya disuruh buat laporan, nah karena jurusan sekolah saya itu MULTIMEDIA, jadi saya harus bikin 2 buah laporan sekaligus (berbentuk makalah dan Flash –animasi). Jadi sampai sekarang saya masih fokus untuk itu karena nanti hari sabtu tanggal 17 adalah sidang hasil prakerinnya. Aaaaaaa *stres.

(untung sidangnya diundur jadi saya ada kesempatan buat post ini hehe._.)

Jadi, insya Allah kalau semuanya sudah selesai dan lancar, saya akan kembali menulis dan mengirimkan lanjutannya :p jadi mohon doanya yaa semua supaya lancar (:o

Dan juga tetap setia nunggu lanjutannya yaa walaupun itu bukan waktu yang sebentar:’)

 

Nah, alasan kedua; simple aja sih, saya cuman ingin liat respon reader-nya dulu, bagus atau engga. Dan ternyata hasilnya, bagussssss😀

 

Alasan ketiga; ternyata, liat respon reader terlebih dahulu itu bukan ide yang baik (bagiku). Bukan… bukan karena banyak yang gasuka, seperti dilansir di alasan kedua, responnya sangat-sangat bagus. TERUS KENAPA????? Karena sebagian –atau bahkan semuanya pada bilang BYAIAD itu lucu (ceritanya tentunya bukan authornya), gokil dan mampu bikin ngakak. Itu justru membuat saya frustasi. Saya bener-bener gak nyangka kalau itu bakal bikin kalian semua ketawa karena saya bener-bener gak niat bikin genre ceritanya comedy, makanya gak saya tulis ‘Comedy’ di bagian genrenya. Saya nulis itu ngalir aja sesuai otak saya yang memikirkan kata-katanya dan tangan saya yang asik bergoyang di atas keyboard.

Jadi, saya merasa dilema banget mau buat cerita itu dengan genre comedy (sesuai dengan yang diminta) atau ngalir gitu aja sesuai mood (karena emang cara saya menulis itu di tentukan oleh mood saat itu).

Kenapa bisa bingung? Seperti yang saya tulis di atas, saya hanya gak ingin kehilangan reader. Saya gak ingin reader pada kecewa karena ceritanya jauh dari harapan mereka –lucu, gokil dan bikin ngakak.

Kenapa bisa mikir kayak gitu? Karena saya nyadar kalau part 2 dan selanjutnya itu gak akan selucu, segokil dan sebikin ngakak part 1. Saya tahu rasanya, karena saya juga seorang reader yang pasti pernah kecewa sama cerita yang diharapkannya-__-

Sekarang aja yang komen udah berkurang:( sedih banget rasanya fufufu

 

So, mianhae untuk semuanyaaaa:’)

Dan terimakasih untuk reader yang sudah komen maupun tidak, gomaptaaaaaaa :*****

Tetap setia nungguin lanjutannya yaaaa~ *puppy*

 

-NOX-

2

Fanfiction – Key [Part 2 – End]

Author Pov

Minra hendak keluar kelas saat ada seseorang memanggilnya.

“eh –Minho. Waeyo?”

“aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan sekarang. Kau mau?”

Dia tersenyum bak malaikat. Sungguh, dia adalah ciptaan Tuhan paling sempurna yang pernah Minra lihat.

Minra mengangguk dan tersenyum sebagai jawabannya.

Mereka berdua pergi menyusuri kota seoul sampai tak lama kemudian Minho menghentikan mobilnya. Namsan Tower berdiri dengan tegak dihadapan mereka, membuat Minra tak pernah berhenti mengagumi bangunan ini. Padahal sudah beberapa kali dia pergi kesini.

“ini, minumlah!” Minho menyodorkan segelas kopi kehadapan Minra.

“gomawo, Minho oppa.”

Jam sudah menunjukan pukul 5 sore. Minra dan Minho memutuskan untuk masuk. Cuaca diluar sangatlah dingin.

Saat berada di dalam gondola, tiba-tiba saja Minho menyodorkan sebuah kotak lumayan besar. Membuat Minra menautkan alis bingung.

“apa ini, oppa?”

“hadiah untukmu,” hadiah? Mengapa dia memberikanku hadiah? Batinnya.

“aku tak sengaja melihat buku note-mu yang ketinggalan itu untuk mengetahui alamat rumahmu. Disitu tertulis kalau hari ini kau berulang tahun. Jadi –ya ini hadiah untukmu. Saengil chukkae, Minra-ya.”

Minra sungguh kaget mendengar jawabannya. Minho –ingat ulang tahunnya? Sedangkan dia saja lupa kalau hari ini adalah genap dia berusia 20 tahun.

Matanya mulai terasa panas. Minra sungguh terharu oleh kelakuan namja tampan di depannya ini.

“gamsahabnida. Jeongmal gamsahabnida, oppa.”

“sudah tidak perlu menangis, sekarang bukalah. Ku harap kau menyukainya.”

Minra segera membuka hadiahnya. Apapun isinya, aku pasti akan suka oppa. Batin Minra berteriak.

Dilihatnya sebuah boneka beruang berukuran sedang dengan warna bulu seputih salju. Dikepala beruang itu terdapat sebuah pita kecil berwarna pink. Di perut –buncit– beruangnya terdapat tulisan “Happy Birthday, Kang Minra”

“gomawo, oppa. Ini –sungguh aku menyukainya.”

“baguslah jika kau suka. Aku khusus memesannya untukmu.”

*

*

Minra Pov

Minho oppa mengantarkanku sampai depan rumah. Tepat pukul 8 malam.

Hari ini aku sungguh sangat senang. Rasanya tak ingin kebersamaanku dengan Minho oppa selesai begitu saja. Aku tahu aku egois.

“tak usah, oppa,” aku menahannya ketika dia berniat membukakan pintu untukku. “diluar hujan, biar aku sendiri saja.”

“kalau begitu, kau masuklah! Takut umma-mu khawatir.”

“kau tidak mau mampir dulu, oppa?”

“tidak usah. Lain kali saja.”

“kalau begitu, aku masuk ya, oppa. Terimakasih untuk hari ini. Kau hati-hati dijalan. Annyeong!” aku tersenyum padanya sebelum aku membuka pintu mobilnya dan keluar. Melambaikan tanganku sampai mobilnya tak terlihat lagi dari pandanganku.

Aku membaringkan tubuhku di kasur setelah aku berendam si bathub. Senyum tak henti-hentinya bertengger di wajahku.

Ku rogoh tas-ku untuk mencari ponsel. Berniat mengucapkan terima kasih –lagi kepada Minho oppa atas hari ini.

Ponsel-ku mati. Lowbat.

Setelah ku charge dan ku hidupkan, ternyata ada 5 pesan dan 7 missed call. Semuanya dari Key. Ada apa sih memangnya sampai dia gencar sekali menghubungiku? Biasanya dia cukup mengirim 1 buah pesan-wajibnya.

Kau dimana

Apakah masih ada kelas?

Minra-ya, apa kau baik-baik saja?

Apa terjadi sesuatu?

Aku masih menunggumu. Cepatlah datang!

Aigo! Aku lupa kalau aku ada janji dengannya.

Ku lirik jam dinding di kamarku. Pukul 8.45 malam. Berarti lewat 3 jam 45 menit dari janjinya.

Aku segera berlari keluar setelah menyambar payung. Menghiraukan teriakan umma yang memanggilku. Tak peduli kalau saat ini hujan masih saja mengguyur seoul (walaupun tak terlalu lebat). Tak peduli dia masih menungguku atau tidak.

Entahlah mengapa aku nekat seperti ini hanya untuk seorang Key. Jangan tanya padaku.

*

*

Key Pov

Sudah 30 menit dari janji yang dibuat, tapi Minra belum datang. Dia tidak membalas pesanku saat aku menanyakannya dia dimana.

Ku coba telpon ponselnya, tapi tidak diangkat.

Ku kirimi dia pesan lagi, namun tetap nihil. Ia tak membalas pesanku.

Mungkin dia masih ada kelas. Ku coba untuk menghibur diriku sendiri dan meyakinkanku untuk menunggunya karena dia pasti akan datang.

1 jam…

2 jam…

3 jam…

Ponselnya tidak aktif sejak 2 jam yang lalu.

Sudah pukul 8 malam. Hujan mengguyur kota seoul, dan dia tetap belum datang. Apa dia lupa? Setahuku dia bukan orang yang pelupa.

Drrt…drrt…

1 new message.

Segera ku raih ponselku. Berharap itu adalah pesan dari Minra. Namun itu hanya harapan semata saat ku mulai membuka pesannya.

Key, apakah kau sudah siap? Ini sudah lewat 1 jam dari yang dijanjikan. Disini hujan, asal kau tahu.

Dari Jonghyun hyung. Sepupuku yang ku minta bantuan untuk acara kejutan yang –rencananya– akan ku berikan malam ini kepada Minra.

Kau pulang saja, hyung! Kau bisa sakit kalau terus menunggu. Semuanya gagal. Akan ku ceritakan saat ku sudah pulang.

Sent.

Aku tahu. Seharusnya pesan tersebut juga berlaku untukku. Tapi, hatiku tak mengijinkan untuk aku beranjak dari sini. Aku yakin dia akan datang.

Lama ku menunggu sementara memandang langit yang gelap gulita. Tiba-tiba kurasakan hujan tak mengguyur lagi tubuhku.

“pabo!”

Jantungku berdetak lebih cepat saat ku melihatnya. Minra. Memayungi diriku –dan juga dirinya yang sudah sama-sama basah kuyup. Entah bagaimana caranya dia bisa begitu padahal jelas-jelas dia membawa payung. Well, mungkin dia berlari.

Aku berdiri dari dudukku. Memandang wajahnya dengan jarak sedekat ini –saat dia sedang sadar– adalah hal yang langka. Aku tersenyum melihat wajahnya yang menyiratkan –ehm kekhawatiran, mungkin?

“pabo! Pabo! Pabo! Mengapa kau hujan-hujanan hanya untuk menungguku?” dia memukul-mukul tanganku. Aku hanya tersenyum. Senang melihatnya mengkhawatirkanku.

“kau..khawatir padaku?”

Dia berhenti memukulku dan mengalihkan pandangannya.

“aku hanya tak ingin orang lain susah karenaku.”

“aku tahu kau khawatir padaku.”

“tidak! Ah sudahlah. Ayo pulang!”

Saat ia hendak berbalik, ku tahan pergelangan tangannya. Dia menatapku sebal.

“tutup matamu! Dan berbalik!”

Dia menautkan alisnya bingung.

“ayo cepat!”

“andwae! Apa yang akan kau lakukan?”

“aku tidak akan menyakitimu, tenanglah! Ayo cepat tutup matamu! Dan berbaliklah!” aku menatapnya meyakinkan bahwa aku tak akan melakukan apapun yang akan mengecewakannya.

Ku rogoh saku celanaku saat dia mulai menutup mata kemudian berbalik.

Dia tersentak saat aku mulai memakaikan hadiah dariku –sebuah kalung dengan bandul cincin.

Dia membuka matanya sebelum aku memerintahkannya. Berbalik dan menatap tak percaya kepadaku sambil menyentuh bandul liontinnya.

Tanpa basa-basi aku langsung memeluknya. Dia menjatuhkan payungnya sebagai respon keterkejutannya.

Walaupun dia tak membalas pelukanku, tapi dia tak memberontak. Ini kesempatan untuk aku mengatakannya.

“saengil chukkae, nae Minra. Ku berikan kalung dengan bandul cincin itu bukan tanpa maksud apa-apa. Mungkin saat ini kau hanya bisa memakainya sebagai bandul kalung, tapi suatu saat, aku berjanji –pada diriku– akan memakaikan cincin itu dijari manis tanganmu. Jaga kesehatanmu, okay? Aku tak ingin kau sakit.”

“bagaimana aku tidak akan sakit jika kau membuatku menjatuhkan payungnya?”

*

*

Minra Pov

Entah apa yang ada di pikiranku sehingga aku membawanya kerumahku, mengajaknya untuk menginap. Ya, yang ku maksud itu Key.

Taxi. Mungkin itu yang bisa ku jadikan alasan. Ini sudah malam, dan hujan semakin lebat mengguyur kota seoul. Sekitar 20 menit aku dan Key menunggu taxi didekat taman tapi tetap saja tak muncul. Bus? Jangan tanya –ini sudah malam.

Saat ini aku sedang mengerjakan tugasku, saat pintu kamarku diketuk. Aku tahu pasti itu siapa.

“masuk!”

“kau sedang apa?” tanya Key.

“mengerjakan tugas,” jawabku dingin.

Dia kemudian tak bertanya lagi, dan menurut feeling ku –karena aku membelakanginya– pasti dia sekarang sedang berkeliling kamar. Well, terdengar dari suara langkahnya.

“hmm…bagus. Dari siapa?”

Aku meliriknya yang sedang menggenggam boneka beruang hadiah dari Minho oppa.

“oh..itu dari Minho oppa. Tadi dia mengajakku jalan-jalan dan–”

Segera ku bungkam mulutku. Pabo! Dasar pabo! Bagaimana bisa kau keceplosan mengatakan padanya? Mengatakan alasan yang menyebabkan kau melupakan janji dengannya. Pabo!

Dengan takut-takut kulirik wajahnya. Apakah ia marah?

“oh..” dia hanya mengangguk-ngangguk dan menyimpan lagi boneka itu ditempatnya. “Good night, Minra.”

Dia berjalan ke arah pintu dan punggungnya menghilang seiring dengan pintu ditutup. Sempat ku lihat ia tersenyum tipis.

Aish, eottokhae? Apa Key marah?

Eh –mengapa kau begitu takut jika dia marah?

*

*

“kau tidak berniat untuk mencoba mencintainya? Atau mungkin menyukainya terlebih dahulu?”

Tidak. Sama sekali tidak.

“ya, coba saja kau bersikap baik terlebih dulu kepadanya. Kalau kau terus saja menolaknya, kupikir lama-kelamaan dia akan mundur.”

Mundur? Seorang Key mundur?

“kau tidak takut kalau dia mundur? Melepaskanmu untuk tidak menjadi miliknya?”

Key akan melepasku?

“jangan sampai kau menyesal saat kau sudah kehilangannya.”

Taemin menepuk pundakku kemudian berdiri dari kursinya yang diikuti oleh Yunmi. Mereka sudah berbaikan ternyata. Dan sekarang malah kompak membuatku masuk kedalam pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tak pernah kupikirkan.

“aku dan Yunmi pulang duluan, kau hati-hati.”

“kau jangan pulang terlalu malam, ne? Annyeong, Minra-ya!”

Aku hanya menatap punggung kedua teman dekatku sambil memikirkan kata-kata mereka barusan.

Key akan mundur? Melepaskanku? Aku menyesal? Apakah aku akan menyesal jika itu benar-benar terjadi?

Tidak. Tidak mungkin Key akan mundur. Setelah enam bulan mengejar cintaku, mana mungkin dia akan mundur!

Tapi, bukankah justru karena semakin lama dia bertahan, semakin besar pula kemungkinan dia akan mundur?

Lamunanku buyar karena bunyi handphone-ku yang menandakan ada pesan yang masuk.

Dari Key.

Minra-ya, hari ini aku tidak bisa pulang bersamamu. Tiba-tiba saja Kang songsaenim memintaku untuk membantunya. Kau lebih baik pulang duluan sebelum matahari terbenam.

Hanya itu? Tidak bisa pulang bersama? Bahkan tidak menyisipkan emoticon kiss?

Eh? Mengapa kau kecewa Minra? Ucap sebuah suara yang lain dalam pikirannya.

Tidak –aku tidak kecewa! Aku hanya heran saja. Ya –heran saja.

Baiklah. Aku akan pulang sendiri. Lagipula, aku tidak menunggumu. Ada atau tidak adanya Key, aku akan selalu (merasa) pulang sendirian.

Tapi…..mengapa rasanya –aneh?

Tidak. Tidak.

Ini. Tidak. Aneh. Kang Minra!

*

*

Sudah kurang lebih dua minggu aku tidak bertemu dengan Key. Dia selalu saja sibuk. Bahkan, sudah lima hari ini dia tidak mengirimku satupun pesan singkat. Dan anehnya aku merasa khawatir, mungkin? Atau…kesepian?

Entahlah, aku tidak tahu.

Apa benar dia menyerah? Dia melepaskanku?

Ya, bisa saja itu terjadi. Key hanya seorang manusia yang pasti memiliki batas kesabaran.

Tapi, mengapa seperti ini caranya?

Dan…parahnya lagi aku merasa menyesal?

Sungguh tak dapat ku percaya. Apakah aku sudah mulai menyukainya?

Argh! Ada apa dengan otakmu Kang Minra? Mengapa akhir-akhir ini kau sering sekali memikirkannya?

“melamunkan Key sunbae, huh?”

“ti –tidak!”

“tak usah berpura-pura. Di keningmu tertulis jelas bahwa kau sedang memikirkannya,” Yunmi menunjuk keningku.

Aku hanya melengos mendengar jawabannya.

“apa kau tertarik untuk bercerita padaku?” tanyanya. Memainkan alisnya naik turun –menggodaku.

Saat aku akan membuka mulut untuk bercerita, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi membuatku mengurungkan niatku. Menunggu dia selesai dengan urusannya.

“ne –ne. Bawel sekali kau! Tenang saja… Ye, ara ara. Bye,” dia menutup telponnya kemudian mentapku serius.

“wae?”

“apa –apa kau tahu… tentang –apa kau sudah mendengar beritanya?” tanya Yunmi serius –tergagap.

“berita? Berita apa?”

“tentang Key sunbae,”

Seketika itu juga kurasakan tubuhku menegang. Ada apa dengannya? Aku hanya menggeleng sebagai jawaban.

“ku dengar dia –dia akan pergi ke Aussie besok.”

Sesaat ku rasakan aku berhenti bernafas. Dadaku terasa sesak sampai aku lupa caranya bernafas. Aku tersadar saat Yunmi menyentuh tanganku.

“aku tidak sedang ingin bercanda, Yunmi”

“aku –tidak sedang bercanda. Jika kau tak percaya, tanyakan saja pada –pada Taemin,”

“berapa lama?”

“ku dengar –eum sekitar dua sampai lima tahunan atau bahkan tak akan kembali.”

“eum –baguslah… Aku –tidak akan ada lagi yang menggangguku,” aku berusaha susah payah agar suaraku tak terdengar bergetar.

*

*

Terhitung sudah sekitar sepuluh kali –dengan hari ini– aku menjadi guru Minho oppa. Dia sudah semakin mahir dari hari ke hari. Tapi, bukan itu yang menjadi masalahku. Saat ini sungguh aku tak bisa fokus memikirkan pembicaraanku kemarin dengan Yunmi. Apa benar Key akan pergi? Hanya itu pertanyaan yang terus muncul didalam benakku. Aku tak berani menanyakannya lewat sms atau menelponnya. Kalian tahu, gengsiku selalu menang.

“…bagaimana? Hey, Minra-ya? Apa kau mendengarku?” Minho oppa mengguncangkan tubuhku membuatku tersadar dari lamunanku.

“ah –ne, oppa?”

“sepertinya kau kurang konsentrasi, apa kau tidak enak badan?”

Aku segera menggeleng mencoba meyakinkannya dan tersenyum.

“kalau begitu, pasti kau ada masalah. Mau berbagi denganku? Itu –jika kau mau,” dia tersenyum manis padaku. Membuatku yakin untuk menceritakannya.

*

*

Terus terngiang didalam benakku perkataan Minho oppa dan pesan singkat dari Yunmi tadi.

“apa yang kau rasakan?”

“aku…merindukannya.”

“mengapa?”

“aku –aku tak tahu.”

“itu berarti kau menyukainya,”

“huh? Tak ada alasan bagiku untuk menyukainya, oppa. Lagipula –aku yakin selama ini aku…menyukaimu, oppa.”

“jeongmalyo? Apa yang membuatmu suka padaku?”

“kau itu –kau tampan, tinggi, pintar, atlet basket, dan –yah…”

“itu disebut dengan kagum, Kang Minra. Kau sepenuhnya tidak menyukaiku –oke aku tahu, kau menyukaiku tapi tidak lebih dari sebatas kagum. Asal kau tahu, cinta sesungguhnya tak membutuhkan alasan mengapa seseorang bisa jatuh cinta terhadap lawan jenisnya.”

“jadi –eotthe, oppa?”

“kejarlah dia sebelum terlambat –sebelum kau menyesal.”

Dan disinilah aku saat ini, berlari sekencang mungkin menuju bandara. Sesekali menatap layar ponsel yang kugenggam. Disana dengan jelas terpampang pesan dari Yunmi yang membuatku ingin sekali sampai di bandara.

Yang kutahu pesawat-nya take off 30 menit lagi. Jinjja? Kau akan mengejarnya?

Tak kubalas pertanyaannya. Itu tak terlalu penting. Yang terpenting sekarang adalah mencegahnya –Key– untuk tidak pergi.

Ku lirik jam di ponselku. Aigo! 10 menit lagi! Sedangkan jarak bandara masih sangat jauh. Aku sama sekali tak berniat naik bis, karena jadwal keberangkatannya masih 25 menit lagi. Aku juga tak ada waktu hanya untuk menunggu taxi yang sedari tadi tak aku lihat sedikitpun ujung ban-nya.

“apa pesawat dengan tujuan aussie sudah berangkat?” tanyaku sesaat setelah sampai di bandara.

“baru saja berangkat. Sekitar 5 menit yang lalu.”

*

*

Author Pov

Minra berjalan dengan lemas setelah mengucapkan terimakasih kepada tugas bandara.

Air mata sudah menggenang dipelupuk matanya, bersiap terjun kapan saja sesuai keinginannya.

“Mengapa aku begitu bodoh? Mengapa aku baru menyadarinya kalau aku sungguh tak ingin kehilangannya,” dia terus memaki dirinya. Terbiasa dengan Key setiap hari membuatnya sulit untuk kehilangannya.

Dan kenyataan yang paling tidak ingin Minra akui adalah; aku –Kang Minra sudah berhasil membuka hati untuk namja gila –Kim Kibum.

Minra berjalan gontai keluar dari bandara. Langit seperti mendukung perasaannya dengan menumpahkan isinya, mengalir mengikuti aliran kecil di pipi putihnya.

Sungguh ia ingin sekali berteriak. Tapi, sepertinya seluruh tenaganya hilang tersapu dengan air hujan yang mengguyur tubuhnya.

“ouch –maaf, aku tidak sengaja,” ucap Minra setelah dia menabrak sambil meringis mengusap keningnya yang terasa sakit.

Saat hendak beranjak, tiba-tiba tangannya ditahan oleh orang yang baru saja ditabraknya. Saat dia mendongak untuk melihat si-penahan-tangannya, saat itu juga ia merasa lupa caranya bernafas.

“Key..” gumamnya sambil menatap Key dengan tajam.

“mengapa menatapku seperti itu? Apa aku bertambah tampan setelah beberapa hari tak bertemu?”

Minra menghiraukan candaannya. Dia lebih penasaran mengapa Key masih ada disini. Seharusnya kan dia sudah berangkat ke Aussie.

“kau…tidak jadi pergi?” sungguh, Minra sangat berharap kalau jawaban yang terlontar dari mulut Key adalah “ya.”

“pergi? Kemana?”

“Aussie –Yunmi bilang kau akan pergi ke Aussie.”

“Yunmi? Pantas saja dia menyuruhku kesini,” gumam Key.

“apa? Kau bicara apa?”

“ah –tidak. Aku tidak berbicara apa-apa.”

“ehm –jadi? Kau tidak pergi?” setelah lama terdiam, Minra bertanya lagi.

“jadi, aku akan pergi ke Aussie.”

“la –lalu mengapa kau masih disini?” suara Minra mulai bergetar.

“aku berangkat besok, bukan hari ini.”

Jawaban Key membuat air mata yang baru saja berhenti kembali mengalir. Itu terlihat jelas, karena saat ini hujan tak lagi mengguyur tubuh –basah Minra (sedari tadi mereka mengobrol dibawah payung).

Minra menatap Key dengan mata merahnya.

“setelah dengan seenaknya kau masuk kedalam kehidupanku, sekarang kau dengan seenaknya juga pergi begitu saja.”

“ma –maksudmu?” Key menautkan alis bingung.

“Pikir saja dengan otakmu yang sebesar biji kacang itu!” Minra menjawab dengan menggebu-gebu. “Mengapa kau tidak memberitahukanku sebelumnya? Mengapa kau justru menghilang di hari-hari terakhir kau berada di Seoul? Mengapa kau sama sekali tak pernah menghubungiku saat kau akan pergi? Mengapa kau berniat meninggalkanku? Apa kau menyerah, huh? Kau pernah bilang padaku –saat di kamar itu. Kau –kau akan mencintaiku sampai akhir hidupmu. Lalu –lalu apa buktinya? Sekarang kau malah akan meninggalkanku, meninggalkanku yang… aku –”

“tunggu!” Key menahan tangan Minra yang sedari tadi memukulinya. “apa maksudmu? Aku tak akan meninggalkanmu. Aku pergi ke Aussie hanya satu minggu, hanya untuk mengunjungi kakek-ku disana. Aku akan kembali lagi ke Seoul.”

Minra menatap Key tak percaya.

“lalu –Yunmi bilang, kau –kau pergi dua atau lima tahun, atau bahkan tak akan kembali,” Minra bergumam pada dirinya sendiri namun terdengar oleh Key. Rasa malu mulai menjalar. Yunmi baru saja mengerjainya dan dia tidak sadar. Oh, bodoh sekali kau, Kang Minra, rutuknya.

Dengan ragu-ragu dia menatap Key yang sekarang tengah tersenyum –atau menyeringai?

“jelaskan padaku, mengapa kau begitu marah jika aku pergi?”

Minra gelagapan, bingung akan alasan apa yang harus ia berikan supaya namja didepannya itu tidak mengetahui isi hatinya yang sebenarnya.

“aku –aku…”

“apa kau –kau sudah mulai menyukaiku?” seringaian di wajah Key makin besar.

“tidak!” sanggah Minra cepat.

“tidak? Benarkah kau belum menyukaiku?”

Minra menggeleng dan menunduk. Menahan rasa malunya. Key mengangkat dagu Minra dengan telunjuknya. Menatap bola mata Minra, mencoba memasuki mata bening itu.

“katakan padaku, kalau kau belum menyukaiku.” Ucap Key tegas.

Minra terpaku sesaat dengan mata kucing milik Key sebelum menjawab.

“oke oke,” dia menarik nafas panjang sebelum melanjutkan. “ku pikir aku sudah gila, karena sekarang –dengan senang hati, aku katakan padamu bahwa (hhh..) aku sudah mulai menyukaimu.”

Tanpa aba-aba key langsung memeluk Minra dengan erat. Membuatnya sulit untuk bernafas.

“gomawo. Jeongmal gomawo. Saranghae, Minra-ya.”

“na do saranghae.”

Yang bisa Minra lakukan hanya membalas pelukan Key. Saling berusaha berbagi kehangatan dari tubuh masing-masing yang menggigil kedinginan. Sampai akhirnya, suara klakson mobil membuat mereka melepaskan pelukannya masing-masing.

“maaf, agassi. Dilarang berpelukan dipinggir jalan apalagi saat hujan turun dengan lebat.”

“YAAA! YUNMIKO! KAU MENYEBALKAN!

-FIN-